NYAI; PERLAWANAN PEREMPUAN DALAM PANGGUNG PARODI DAN TRAGEDI

Apa yang terlintas ketika menyaksikan karya-karya Garin Nugroho? Abstrak? Simbolik dalam tarian dan monolog? Beberapa hal itu bisa saja mewakili. Namun karya-karya beliau tersebut tidak hanya sebatas hal-hal tersebut. Ada sebuah keresahan yang dapat kita petik dari tiap karya pria berumur 59 tahun tersebut. Baik tentang kondisi sosial politik bangsa, perempuan dan anak-anak serta kaum marginal dan terpinggirkan. Bisa kita ambil contoh “Daun Di atas Bantal” yang begitu menohok kondisi kaum kelas bawah di tengah krisis melanda negeri ini. Atau kisah asmara perwayangan Rama dan Sinta dalam Opera Jawa yang begitu menonjolkan budaya tarian. Serupa Opera Jawa yang begitu memikat itu, terselip keresahan Garin akan kondisi negeri ini. Maka Nyaipun melakukan hal yang serupa. Namun dibalut secara tidak biasa. Melalui pengambilan gambar sacara panjang (One take) menjadikan film ini punya sisi yang memikat sekaligus menantang.

Bagaimana tidak, selama hampir 90 menit kamera hanya menyorot latar sebuah teras rumah milik seorang bangsawan Belanda bernama Willem van Erk yang tengah sakit. Ditengah kondisinya tersebut tamu datang silih berganti dan mereka disambut oleh seorang perempuan yang tidak lain adalah istri dari bangsawan tersebut, mereka menyebutnya Nyai. Latar cerita yang berkisar tahun 1920an ini juga didasari dari beberapa novel termasuk Bumi Manusia milik Pramoedya Ananta Toer. Melalui tokoh Nyai inilah, Garin menuturkan berbagai refleksi yang begitu relate dengan kondisi kehidupan kita saat ini, terutama bicara persoalan perempuan.

Tentu kita bertanya mengapa film ini menggunakan teknik pengambilan gambar semacam itu. Teknik One take mempunyai kelebihan yaitu kekuatan untuk “memaksa” penonton terus menyaksikan adegan apapun yang ada dihadapannya, sehingga hal ini dapat mengikat kuat emosi dan reaksi penonton. Ya, bagaikan menonton pertunjukan teater, apapun yang terjadi di panggung kita dapat melihatnya setiap sudut langsung tanpa jeda. Inilah yang menjadi kekuatan sekaligus ancaman dalam film ini. Kekuatannya terletak peforma setiap pemain termasuk Nyai yang diperankan oleh Annisa Hertami. Tanpa itu rasanya Nyai dapat saja menjadi kacau. Kamera yang beberapa kali bergerak mengikuti tokoh atau sesekali mengambil detail Close Up mampu memberikan pendekatan emosional pada penonton meski gambar diambil tanpa jeda.

Bukan seorang Garin jika tidak menyelipkan isu-isu sosial dalam beragam bentuk kesenian. Tidak hanya tarian, namun juga ketoprak dan monolog yang menjadi ciri khas yang sangat melekat dalam karya-karya beliau. Tokoh Nyai memang menajdi pusat cerita dalam film ini. Melalui tokoh Nyai, Garin ingin membungkus usaha seorang istri bangsawan Belanda yang ingin menemukan kemerdekaannya sendiri ditengah kemelut negeri melawan kolonialisme.  Status sosial yang dimiliki oleh Nyai memang dipandang miring banyak orang, justru digunakannya untuk tetap membela rakyatnya sendiri. Meski Nyai sendiri tidak benar-benar ingin melakukannya karena tujuan sebenarnnya adalah untuk mendapatkan hak asuh anaknya dilakonkan kadang dengan penuh drama, sesaki kita pula diajak untuk kembali mengingat bagaimana dulunya film disebut sebagai “gambar hidup”. Pergolakan politik ketika berbagai faham masuk ke negeri ini untuk menemukan tanah-tanah baru. Pergerakan kaum-kaum kelas bawah menuntut haknya. Bersama dengan Nyai, kita tidak hanya diajak melihat semua itu, hingga ketika menuju babak akhir cerita ditutup dengan aksi menarik pelatuk pistol sampai ratapan sang Nyai di terasnya begitu sunyi dan mengiris. Akhirnya kesemua itu membuat Nyai begitu apik, begitu menggelitik, dan sekaligus juga tragis.


Comments

Popular posts from this blog

MATA BATIN (Refleksi Diri dalam 5 Film Pendek Indonesia)