MATA BATIN (Refleksi Diri dalam 5 Film Pendek Indonesia)
Tahukah kalian bahwa TVRI kini menggelar berbagai program acara sebagai ajang untuk belajar di rumah dalam masa pandemic Covid-19 saat ini. Berbagai program acara dari bimbingan pembelajaran dengan pakar dan ahli pendidikan di bidangnya dari jenjang pendidikan dari SD hingga SMA, dan program feature bertema pendidikan, sosial dan budaya,. Dari semua program tersebut diantaranya adalah pemutaran film nasional.
Program ini dinamakan Film Nasional dengan jam
tanyang 21:30 hingga 23:30 WIB. Berbagai film dari genre dan jenis hadir. Namun
hal unik dan menarik adalah adanya pemutaran beberapa film pendek dari berbagai
sineas muda tanah air.
Pada 14 mei 2020 silam, saya berkesempatan
dapat menyaksikan kompilasi beberapa film pendek dengan tema pemutaran “Mata Batin”. Film-film
tersebut adalah Semalam Anak Kita Pulang karya sutradara Adi Marsono, Elinah karya sutradara Ninndi Raras, Topo Pendem karya sutradara Imam
Syafi’I, Ilalang Ingin Hilang Waktu Siang
karya sutradara Loeloe Hendra, dan Ruah
karya sutradara Makbul Mubarak.
Sesuai dengan tema, maka film-film pendek ini
akan memberikan pengalaman sinema tentang spiritual dari beragam sudut pandang
cerita. Hal perlu diapresiasi adalah TVRI akhirnya memberi ruang pada film-film
ini sehingga dapat dinikmati oleh publik lebih luas. Karena sabagaimana
diketahui bahwa akses untuk menyaksikan film pendek di Indonesia masih
terbatas. Jika tidak datang ke perhelatan festival film, atau menyaksikannya di platform digital. Apalagi kelima film ini bukan film pendek
biasa dan telah bersua di berbagai festival film baik skala nasional maupun
internasional. Masing-masing menuturkan cerita dan menjadi favorit saya, dimana
tokohnya mengalami konflik psikologis. Apakah itu kebingungan, keresahan,
hingga kekecewaan dan memiliki relefansi dengan realitas yang sering kita
temui.
Ada tiga film yang menarik bagi saya.
diantaranya Semalam Anak Kita Pulang karya sutradara Adi Marsono, cerita berkisah
kerinduan seorang ibu pada putrinya yang telah lama merantau dan tiada kabar berita
terasa sunyi dengan pemilihan latar sebuah rumah pendopo (khas jawa) dan
kandang ternak serta lumbung padi. Hanya dengan suara jangkrik, kokok ayam, dan
ternak lainnya, ditambah penokohan sang ibu lewat tatapan kosong. Sesekali
lumbung padi berbunyi seakan memberi tanda bahwa sang anak sudah pulang, namun
ternyata sebaliknya. Belum lagi pemilihan tata kamera yang minim gerakan (Movement) dan lebih banyak diam justru
menambah kesepian dan kesunyian menjadikan rindu bisa begitu sangat menyakikan.
Jika Adi Marsono memanfaatkan kesunyian latar
untuk menuturkan ceritanya. Lain halnya dengan Topo Pendem karya Imam Syafi’i.
kita akan disuguhkan dengan perjuangan seorang ayah untuk menyembuhkan penyakit
putranya lewat ritual Topo Pendam. Saya awalnya tidak terlalu paham tentang
ritual tersebut hingga bertanya kepada orang tua saya sendiri arti dari kata
tersebut. Tapi yang menarik bagaimana cerita ini bergulir, memaparkan sederat
pengalaman spititual (jika boleh dibilang horror) hingga akhirnya saya sadar melalui
film ini, bagaiamanapun bentuk dan kondisi seorang anak, orang tua tetap akan
memberikan yang terbaik. Meski itupun mungkin akan menyakiti dirinya sendiri.
Sampai saya tidak sadar menitikan air mata hingga film ini selesai dengan akhir
yang sangat menyentuh.
Berbeda dengan kedua film di atas. Elinah karya sutradara Ninndi Raras
mencoba memperlihatkan ikatan seorang ibu dengan bayi yang dikandungnya.
Pendekatan ceriat dirasa ringan sampai tertinggal bus di terminal mengundang
gelak tawa. Mulai dari memanjat pohon dan lain sebagainya adalah bentuk
komunikasi sang ibu pada si jabang bayi. Hal ini seperti juga dipangaruhi oleh
sikap suami yang seakan kurang memberi perhatian. Hingga ketika memasuki
klimaks yang sebenarnya masih membuat saya bingung, sampai sang ibu akhirnya
memilih keputusan akhirnya membuat saya shock
berat. Tapi akhirnya saya paham keputusan itu bisa menjadi bentuk
kekecewaan pada suaminya selama ini. Sungguh film yang menggelitik sekaligus
juga sedih.
Kedepannya, semoga TVRI tetap menayangkan
program ini terutama pada film pendek yang memiliki keragaman dan cara
bercerita, mengetengahkan kisah-kisah yang dekat dengan keseharian, mungkin
yang kita sadari ataupun tidak. Hal itu akan memberi nilai edukasi dan
inspirasi bagi yang menikmatinya.
Cakep ulasan nya bro 👍
ReplyDeletemakasih kak, udah lama gk nulis soalnya.
ReplyDelete